Senin, 10 Juni 2013

TEKNIK SAMPLING, PENGAWETAN DAN IDENTIFIKASI FITOPLANKTON



I  PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
                        Laut seperti halnya daratan, juga dihuni oleh biota-biota laut, yakni tumbuh-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme hidup lainnya. Biota laut mendiami hampir semua bagian laut, mulai dari wilayah pantai, permukaan laut hingga ke dasar laut yang terdalam sekali pun. Jumlah dan keanekaragaman jenis biota laut ini sangat menakjubkan. Di laut terdapat makhluk-makhluk mulai dari yang berupa jasad-jasad hidup bersel satu yang sangat kecil sampai yang berupa jasad-jasad hidup yang berukuran sangat besar.
            Terdapat kehidupan yang sangat beranekaragam di laut, akan tetapi biota laut hanya dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yakni plankton, nekton dan benthos. Romimohtarto dan Sri Juwana (2001) mengemukakan bahwa pengelompokkan ini tidak ada kaitannya dengan jenis menurut klasifikasi ilmiah, ukuran atau apakah mereka tumbuha-tumbuhan atau hewan, tetapi hanya didasarkan pada kebiasaan hidup mereka secara umum, seperti gerakan berjalan, pola hidup dan sebaran menurut ekologi.
Plankton merupakan biota laut yang beranekaragam dan terpadat di laut karena mencakup sejumlah besar biota di laut. Banyak biota laut yang dalam daur hidupnya menempuh lebih dari satu cara atau siklus hidup. Pada saat mereka menjadi larva atau juwana (juvenile), mereka hidup sebagai plankton dan kemudian menjadi nekton atau bentos pada saat dewasa (Asriyana et al. 2012).
Pengemban utama produsen primer di laut adalah tumbuhan mengapung dan melayang atau fitoplankton yang berfungsi untuk mengatasi kebutuhan zat organik di dalam ekosistem bahari. Tumbuhan ini memang berukuran kecil tetapi terdapat dalam jumlah yang besar dalam ekosistem laut. Oleh karena ukuran tubuhnya sangat bervariasi yaitu mulai dari 2 µm (bakteri) sampai 20 cm atau lebih (misalnya ubur-ubur), Arinardi et al. (1997) menyatakan bahwa dalam melakukan penelitian terhadap plankton, tidak terdapat alat yang mampu mengkoleksi seluruh jenis plankton hanya dengan satu jenis alat saja.
Banyak faktor (seperti alat, frekuensi pengambilan, efisiensi jaring, sifat migrasi plankton) mempengaruhi densitas dari sebaran plankton di ekosistem akuatik. Oleh karena itu, rancangan sampling dan pengawetan sampel sama pentingnya dengan teknik identifikasi dan analisis plankton di laboratorium agar hasilnya dapat memberikan informasi berharga mengenai keadaan plankton di wilayah studi.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan kerja praktek ini antara lain adalah :
1.      Memperoleh pengetahuan mengenai metode penelitian fitoplankton, terutama teknik sampling, pengawetan dan identifikasi fitoplankton.
2.      Mengetahui teknik perhitungan kelimpahan dan struktur komunitas fitoplankton.



II  TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Plankton
Plankton didefinisikan semua jasad hidup nabati (tumbuhan) dan hewani (hewan) yang hidup bebas di perairan dengan kemampuan gerak terbatas sehingga sebagian besar gerakannya secara pasif mengikuti pergerakan arus air (Newell and Newell. 1963). Menurut Asriyana et al (2012), plankton berbeda dengan nekton yang dapat berenang cukup kuat sehingga dapat melawan gerakan massa air. Plankton juga memiliki perbedaan dengan bentos yang terdiri dari organisme yang hidup di dasar perairan.
Sedangkan menurut Romimohtarto et al. (2001), plankton adalah biota yang hidup di mintakat pelagik dan mengapung, menghanyut atau berenang sangat lemah, artinya mereka tak dapat melawan arus. Plankton ini terdiri dari fitoplankton (phytoplankton) atau tumbuh-tumbuhan/ plankton nabati dan zooplankton atau plankton hewan. Di dalam kelompok fitoplankton terutama adalah diatom, dinoflagellata, coccolithophore, cyanophyceae dan chlorophyceae. Sedangkan ke dalam kelompok plankton hewan dimasukkan jutaan zooplankton mulai dari Filum Protozoa sampai Filum Chordata.

2.2. Pengelompokkan Plankton
a)  Berdasarkan Ukuran
Berdasarkan ukurannya, Arinardi et al. (1997) menggolongkan plankton ke dalam beberapa kelompok. Walaupun pembagian ini secara artifitial, akan tetapi penting dalam penelitian jaringan pakan komunitas plankton dan dalam melakukan pengambilan sampel plankton. Berdasarkan ukuran, plankton terbagi atas plankton non-net dan plankton net. Plankton non net adalah plankton  yang diambil dengan botol air (Nansen atau niskin botol) , sedangkan plankton net merupakan plankton yang tertangkap oleh jaring Pengelompokkan plankton berdasarkan ukurannya dapat dilihat pada tabel 1.



Tabel 1. Pengelompokkan Plankton Berdasarkan Ukuran
Kelompok
Ukuran
Biota Utama
A.  Plankton non-net*)
1.   Ultra nanopalnkton
2 µm
Bakteria
2.   Nanoplankton
2-20 µm
Fungi, Flagellata dan diatom kecil
3.   Micropalnkton
20-200 µm
Sebagian besar fitoplankton, foraminifera, cilliata, rotifera dan nauplius copepoda
B. Plankton net *)
1.   Mesoplankton
0,20-200 mm
Cladocera, copepoda dan larvaceae
2.   Macroplankton
2-20 mm
Pteropoda, copepoda, euphausiid dan chaetognatha
3.   Mikronekton
20-200 mm
Cephalopoda, euphausiid, sargestid dan myctophid
4.      Megaloplankton
20-200 mm
Scyphozoa dan Thaliacea
Sumber: Omori and Ikeda (1984) dalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) (1997).

            Perbedaan antara mikronekton dan megaloplankton bukan didasarkan atas ukurannya melainkan pada struktur tubuhnya. Mikronekton merupakan biota bertulang belakang atau rangka luar (eksoskeleton) seperti ikan dan crustacea, sedangkan megaloplankton mmepunyai tubuh lunak dan kenyal seperti salpa dan ubur-ubur.
            Sedangkan menurut Wiadnyana dan Wagey (2004) dalam Asriyana et al (2012), plankton dibedakan menjadi :
1.      Megaplankton             : hewan berukuran besar dengan kemampuan gerak
                                      terbatas, misalnya ubur-ubur.
2.      Makroplankton            : plankton yang dapat dilihat degan mata telanjang
                                      (1 mm – 10 mm).
3.      Mikroplankton             : plankton dengan ukuran 0,075 mm sampai <1 mm.
4.      Nanoplankton              : plankton dengan ukuran 5 µm sampai < 0,075 mm.
5.      Ultraplankton              : plankton terkecil dengan ukuran di bawah 5 µm.

b) Berdasarkan Habitat
Berdasarkan habitat atau tempat hidupnya, Omori and Ikeda (1984) membagi plankton menjadi plankton bahari atau haliplankton dan plankton air tawar atau limnoplankton :

1.      Plankton bahari (Haliplankton)
a.      Plankton oseanik          : plankton yang hidup di luar paparan benua.
b.      Plankton neritik            : plankton yang hidup di atas paparan benua (mulut
                                       sungai, perairan pantai dan perairan lepas pantai).
c.       Plankton air payau        : plankton yang hidup di perairan salinitas rendah
                                       (0,5-30,0 ‰).
2.      Plankton air tawar (Limnoplankton)
       Limnoplankton termasuk semua plankton yang hidup di perairan dengan salinitas kurang dari 0,5 ‰.

c) Berdasarkan Daur Hidup
            Berdasarkan daur hidupnya plankton dibedakan menjadi plankton tetap dan plankton sementara.
1.      Plankton tetap (Holoplankton)
Di dalam kelompok ini, seluruh daur hidup biota dilalui sebagai plankton. Artinya, jika larva tersebut berasal dari induknya yang planktonik, maka apabila larva tersebut bermetamorfosis menjadi hewan muda dan kemudian menjadi hewan dewasa, ia akan tetap hidup sebagai plankton. Dengan kata lain, holoplankton merupakan biota laut yang hidup sebagai plankton dari lahir sampai mati.
2.      Plankton sementara (Meroplankton)
Kehidupan plankton dari kelompok ini hanya terjadi pada awalnya yaitu pada stadia telur dan larva/juwana , karena setelah dewasa mereka akan menetap di dasar laut sebagai bentos atau berenang bebas sebagai nekton. Contoh dari kelompok ini ialah berbagai jenis ikan (nekton), cumi dan kerang-kerangan (Romimohtarto dan Sri Juwana. 2001).

2.3.  Fitoplankton
Fitoplankton merupakan nama umum untuk plankton tumbuhan atau plankton nabati yang terdiri dari beberapa kelas yaitu, Cyanophyceae, Rhodophyceae, Bacillariphyceae, Cryptophyceae, Dynophyceae, Crysophyceae, Haptophyceae, Raphidiophyceae, Xanthophyceae, Eustigmatophyceae, Euglenophyceae, Prasinophyceae dan Chlorophyceae. Dari ketiga belas kelas fitoplankton tersebut, dalam komunitas fitoplankton di laut hanya empat kelas di antaranya merupakan kelas terpenting yaitu Bacillariophyceae, Dynophyceae, Haptophyceae dan Cryptophyceae.
Diatom (Bacillariophyceae) dan Dinoflagellata (Dinophyceae) merupakan anggota utama fitoplankton dan terdapat di seluruh perairan laut, baik perairan pantai maupun perairan oseanik. Sementara Coccolithophor (Haptophyceae) lebih sering hidup di perairan oseanik, Cryptophyceae di perairan pantai dan Chlorophyceae sering melimpah di perairan tropis (Arinardi et al. 1997).
a.      Diatom (Kelas Bacillariophyceae)
Ganggang ini disebut juga golden-brown algae karena kandungan pigmen warna kuning lebih banyak daripada pigmen warna hijau seinga perairan yang padat diatomnya akan terlihat agak coklat muda. Diatom merupakan anggota fitoplankton paling dominan di laut, terutama di laut terbuka dan ukurannya berkisar 0,01-1,00 mm. Bentuk diatom dapat berupa sel tunggal atau rangkaian sel panjang. Setiap sel dilindungi oleh silika dan menyerupai kotak.
Perkembangbiakan dilakukan dengan pembelahan sel sederhana (binary cell division). Beberapa jenis diatom yang hidup di pantai dapat membentuk spora. Pembentuka spora ini dilakukan apabila kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi kehidupannya. Kecepatan pembelahan sel diatom tergantung kepada kondisi lingkungan dan jenis diatomnya. Sel diatom di perairan tropis dapat lebih cepat melakukan pembelahan. Umur diatom sendiri tidak diketahui secara pasti, namun diatom akan mati karena beberapa hal seperti  perubahan musim, dimakan herbivor (misalnya zooplankton), kekurangan zat hara atau tenggelam ke bawah lapisan air yang tidak tertembus cahaya matahari.
Diatom merupakan produsen primer terbanyak dan terdapat di semua bagian lautan, tetapi teramat melimpah di daerah permukaan massa air. Jenis diatom yang umum dijumpai di perairan lepas pantai Indonesia antara lain adalah Chaetoceros sp, Rhizosolenia sp, Thalassiothrix sp dan Bacteriastrum sp. Sedangkan di perairan pantai atau mulat sungai biasanya banyak terdapat Skeletonema sp. dan kadang-kadang Coscinodiscus sp. Diduga kelimpahan Skeletonema ini dikarenakan ia dapat memanfaatkan kadar zat hara lebih cepat daripada diatom lainnya (Romimohtarto dan Sri Juwana. 2001).

b.      Dinoflagellata (Kelas Dinophyceae)
Plankton ini cukup unik karena mempunyai sifat tumbuhan dan sifat hewan. Dikatakan tumbuhan, karena Dinoflagellata menyerap zat hara dan membentuk makanannya sendiri. Sebaliknya dimasukkan ke dalam golongan hewan yaitu Protozoa (hewan  bersel tunggal) karena dapat memangsa biota lainnya. Dinoflagellata umumnya berwarna coklat muda dan mempunyai dua bulu cambuk (flagel) yang dapat digunakan untuk bergerak. Dinoflagellata memperbanyak diri dengan pembelahan biasa.
Genus Dinoflagellata yang umum dijumpai di laut, antara lain Noctiluca, Ceratium, Peridinium dan Dinophysis. Ledakan populasi jenis-jenis Dinoflagellata tertentu (seperti Pyrodinium, Gymnodinium dan Gonyaulax) dapat menyebabkan red tide yaitu peristiwa munculnya populasi fitoplankton secara tiba-tiba sehingga air berwarna merah atau coklat-merah dan mengeluarkan zat beracun (Arinardi et al. 1997).

c.       Coccolithophor (Haptophyceae)
Ganggang ini bersel tunggal dan ukurannya termasuk dalam kisaran nanoplankton (0,005-0,075 mm). Di perairan tropis, fitoplankton ini sering didapatkan dalam jumlah besar sehingga peranannya dianggap penting. Ada pula jenis Coccolithophor yang bercambuk tetapi sukar diawetkan dan dipelajari secara taksonomis. Salah satu contoh dari kelompok ini ialah Phaecyctis pouchetii yang mempunyai sebaran luas tetapi jumlah yang besar biasanya ditemukan di perairan dingin. Jenis fitoplankton ini dapat mengeluarkan racun asam akrilik (Acrylic acid) (Arinardi et al. 1997).

d.      Ganggang hijau-biru (Blue-green algae, Kelas Cyanophyceae)
Ganggang hijau-biru ini umumnya terdapat di perairan pantai dan perairan payau. Salah satu jenis yang dapat hidup di perairan miskin akan zat hara adalah Trichodesmium. Ganggang ini bersel tunggal dengan ukuran hanya 0,001 mm, tersebar luas dan cukup banyak serta diduga merupakan makanan zooplankton kecil. Selnya lunak dan kaya akan pigmen pikoeretrin sehingga berwarna kemerahan. Gerombolan Trichodesmium umum dijumpai di Laut Jawa dan Samudera Hindia, terkadang hanyut beberapa kilometer sejajar pantai (Romimohtarto dan Sri Juwana. 2001).

e.       Ganggang hijau (Green-coloured algae, Kelas Chlorophyceae)
Ganggang ini berwarna hijau biasa atau hijau cerah, sering terlihat blooming di estuari atau perairan tertutup tetapi sangat sedikit di laut terbuka. Jenisnya da yang berflagel dan ada pula yang tidak. Umumnya berukuran nano atau ultraplankton (kurang dari 0,005 mm), pembelahan dilakukan seperti biasa. Salah satu contoh ganggang ini adalah Chlorella (diameter 0,005 mm). Ganggang ini biasanya melimpah di perairan yang relatif tenang seperti danau dan tambak.
Jika terjadi ledakan populasi, air akan berlendir, kotor atau membentuk suatu lapisan di permukaan air. Kematian dan pembusukan ganggang hijau ini dapat menyebabkan kondisi perairan semakin buruk. Chlorella sp. dapat mengeluarkan zat kimia yang menghambat pertumbuhan fitoplankton jenis lain sehingga hanya Chlorella yang tetap sumbuh dengan subur (Arinardi et al. 1997).


 






Gambar 1. Contoh fitoplankton dari berbagai kelas
 (sumber: Rebecca Lindsey and Michon Scott, 2010. http://earthobservatory.nasa.gov
[19 Mei 2013])

2.4.Sampling Plankton
Menurut Mustafa (2000) sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan diteliti. Agar hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel masih tetap bisa dipercaya dalam artian masih bisa mewakili karakteristik populasi,  maka cara penarikan sampelnya harus dilakukan secara seksama. Cara pemilihan sampel dikenal dengan nama teknik sampling atau teknik pengambilan sampel.
Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Sampel yang valid ditentukan oleh dua pertimbangan yaitu akurasi dan presisi. Akurasi atau ketepatan merupakan tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sampel. Dengan kata lain, semakin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, maka semakin akurat sampel tersebut. Sedangkan presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi peneliti dengan karakteristik populasi.
Dalam mempelajari palnkton, tidak akan terlepas dari sampling plankton di lapangan. Teknik atau pencuplikan plankton dari perairan yang paling mudah umumnya dapat dilakukan dengan menyaring sejumlah massa air dengan jaring halus. Bergantung pada tujuannya Wardhana (1997) menyatakan bahwa sampling plankton dapat dilakukan secara kualitatif atau kuantitatif.
1.        Sampling Plankton Secara Kualitatif
Pencuplikan plankton secara kualitatif di perairan dapat dilakukan dengan menarik jala plankton baik secara horizontal maupun vertikal. Pada perairan yang banyak terdapat tumbuhan air pencuplikan plankton dapat dilakukan dengan jala plankton bertangkai. Disamping jala plankton, ikan planktivor sering merupakan pengumpul plankton yang sangat baik. Ikan tersebut dapat mengumpulkan berbagai jenis plankton yang kadang-kadang tidak tertangkap jala. Untuk menghindari agar plankton yang dimakan tidak dicerna lebih lanjut, ikan yang diperoleh harus segera dibunuh.

2.        Sampling Plankton Secara Kuantitatif
Pada umumnya pengumpulan plankton secara kuantitatif dapat dilakukan dengan botol, jaring, atau pompa. Cara sampling seperti ini umumnya dilakukan untuk mengetahui kepadatan plankton per satuan volume dengan pasti.
a.        Botol
Alat pengukuran plankton yang sering digunakan antara lain adalah botol Nansen atau Kemmerer, Van Dorn dan botol biasa. Botol gelas bermulut lebar dan bertutup gelas dipasang pada tali dan diturunkan sampai kedalaman yang ditentukan dan air dibiarkan masuk ke dalamnya. Untuk mengumpulkan plankton secara vertikal pada kedalaman tertentu dapat digunanakan botol Kemmerer atau Nensen. Botol dikaitkan dengan tali dan diturunkan sampai kedalaman yang diinginkan. Pemberat (mesenger) kemudian diturunkan sehingga melepaskan kait tutup yang terbuat dari karet. Air yang tertampung dalam botol kemudian disaring dengan jala plankton (Wardhana. 1997).
Cara pengumpulan plankton seperti ini memiliki kekurangan karena plankton motil dapat menghindar masuk ke dalam botol. Sedangkan kelebihan alat ini antara lain ialah volume air dan kedalaman pengambilan sampel dapat diketahui dengan tepat.


 








Gambar 2. Botol pengambil contoh plankton (a) Van Dorn (b) Botol biasa
(sumber: Arinardi dalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) (1997))


b.        Pompa
Pompa yang cocok untuk mencuplik fitoplankton umumnya yang menggunakan gerakan memutar. Air dari kedalam tertentu dipompa melalui pipa yang telah diberi tanda. Pada ujung pipa perlu diberi pemberat agar tetap tegak lurus. Corong dipasangkan pada saluran masuk pipa untuk mencegah plankton motil menghindar. Garis tengah pipa perlu diseuaikan dengan daya hisap pompa. Air keluaran dari pompa disaring dengan jala plankton yang dibiarkan sebagian terendam dalam air untuk menjegah rusaknya plankton (Wardhana. 1997).
Kelebihan pengambilan dengan pompa adalah sama seperti pengambilan dengan botol yaitu volume air dan kedalaman pengambilan sampel dapat diketahui dengan tepat. Sedangkan kekurangannya adalah terbatasnya kedalaman yang dapat diambil karena kemampuan daya hisap pompa dan kemungkinan rusaknya plankton ketika melalui pompa.



 









Gambar 3. Pompa pengambil contoh plankton
Sumber: Arinardi dalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) (1997).

c.         Jaring
Asriyana et al (2012) menyatakan bahwa jaring plankton mula-mula diperkenalkan oleh Yohannes Miller (1846) yang dikenal dengan nama “jaring plankton tarik”. Banyak alat yang telah diciptakan untuk koleksi plankton, tetapi yang banyak digunakan adalah alat berbentuk jaring. Penggunaan jaring ini selain sangat praktis juga sampel yang diperoleh cukup banyak. Jaring plankton umumnya berbentuk kerucut dengan berbagai ukuran tetapi biasanya panjang jaring sekitar 4-5 kali garis tengah mulutnya. Bahan jaring dibuat dari kain yang digunakan untuk menyaring berbagai ukuran butir (bolting silk cloth) atau nilon. Bolting silk terbuat dari benang sutera halus yang mata jaringnya dirancang untuk tidak mudah berubah.
Jaring berfungsi untuk menyaring air serta plankton yang berada di dalamnya. Oleh karena plankton yang tertangkap sangat tergantung pada ukuran mata jaring maka ukuran mata jaring yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis atau ukuran plankton yang akan diamati. Untuk perairan dangkal  di daerah tropis, Wickstead (1965) menganjurkan untuk menggunakan mata jaring dengan ukuran 30-50 µm untuk fitoplankton dan zooplankton kecil. Apabila digunakan mata jaring kecil maka jaring harus ditarik lebih lambat agar air tersaring dapat keluar dengan lancar (Arinardi et al. 1997).
Dalam keadaan tertentu, ada pula peneliti yang mengambil plankton dengan cara menciduk dengan ember atau gayung. Pengambilan sampel plankton dengan cara ini tidak dianjurkan karena terlampau bias. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Arinardi et al (1997) bahwa plankton tidak tersebar merata baik secara horizontal maupun vertikal dan plankton juga dapat melakukan migrasi harian. Di bagian akhir ujung jaring  terdapat alat untuk menampung plankton yang terkumpul. Alat penampung ini biasanya berbentuk tabung yang mudah dilepas dari jaring. Pada prinsipnya, tabung penampung harus memenuhi dua syarat yaitu, pertama dapat dengan cepat dan mudah dioperasikan di laut dan kedua tidak menampung air terlalu banyak. Tabung penampung plankton yang diciptakan oleh Z. Nakai (Jepang) cukup baik untuk sampel berukuran sedang.
Dalam penelitian plankton untuk analisis kuantitatif (kelimpahan), diperlukan data tentang volume air yang tersaring melalui jaring sehingga plankton dapat dinyatakan dalam sel atau ekor per m3 air tersaring. Untuk keperluan ini digunakan alat pencatat masuknya air ke dalam jaring yang dikenal sebagai flowmeter (Asriyana et al. 2012).


 













                                                                                                               

Gambar 4. Jaring plankton  (a) anyaman mata jaring diperbesar (b)
(sumber: Arinardi dalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) (1997))

Selain alat-alat tersebut, Wardhana (1997) menyatakan bahwa Continous plankton recorder (CPR) juga merupakan salah satu alat pengumpul plankton yang ditarik dengan kapal. Di dalam alat CPR terdapat dua gulungan jala dengan mesh 270μm. Selama ditarik kapal, sampel plankton akan tertampung pada jala dan digulung sedemikian rupa dalam satu tangki berisi larutan formalin. Plankton yang terkumpul kemudian diangkat untuk di cacah dilaboratorium.
Cara sampling yang digunakan juga tergantung pada tujuan yang diinginkan. Arinardi (1997) mengelompokkan metode sampling atas :
a.        Horizontal
Dengan cara ini plankton diambil secara mendatar (horizontal)  di permukaan air atau di lapisan bawah air yang diinginkan. Jaring ditarik untuk jarak atau waktu tertentu dengan kecepatan tetap. Dari pengambilan cara ini akan didapatkan jumlah plankton cukup banyak walau hanya pada lapisan tertentu.



 









Gambar 5. Pengambilan plankton secara horizontal
(sumber: Arinardi dalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) (1997))


b.        Vertikal
Jaring diturunkan pada kedalaman yang diinginkan dengan pemberat di bawahnya (biasanya 10 kg untuk diameter mulut jaring 0,45 m). Setelah itu, jaring ditarik dengan kecepatan konstan. Untuk jaring halus biasanya ditarik dengan kecepatan 0,5 m/detik dan untuk jaring yang agak kasar adalah 1,0 m/detik. Sudut antara kawat jaring dan garis vertikal sebaiknya dicatat untuk menentukan kedalaman pengambilan.



 








Gambar 6. Pengambilan plankton secara vertikal
(sumber: Arinardi dalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) (1997))

c.         Miring (Oblique)
Dalam cara ini, sebuah pemberat diikat diujung kawat dan jaring dipasang pada jarak tertentu dari ujung kawat. Kawat ini diturunkan secara perlahan ketika kapal bergerak dengan lambat (sekitar 2 knot). Besar sudut kawat dengan garis vertikal (sekitar 45o) tetap dipertahankan sampai kawat terulur pada panjang yang diinginkan (biasanya pada kedalaman 200-300 m). Dengan besar sudut tetap sama, kawat dengan jaringnya ditarik ke atas kapal.




 









Gambar 7. Pengambilan plankton secara oblique
(sumber: Arinardi dalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) (1997))


Masih banyak alat dan cara yang digunakan dalam sampling plankton tergantung kepada tujuan pengambilan sampel plankton tersebut. Ada pula usaha-usaha untuk menyeragamkan penggunaan alat dan metode pengambilan plankton sehingga hasil yang diperoleh dapat segera dibandingkan. Salah satu usaha itu adalah penggunaan jaring NORPAC (North Pacific Net) yang dihasilkan oleh The North Pasific Oceanographic Conference yang di selenggarakan di Honolulu (Amerika Serikat) dalam bulan Februari 1956. Spesifikasi jaring ini adalah diameter mulutnya 0,45 m, panjang 1,80 m, lebar mata jaring 0,33 mm dan jaring yang berbentuk kerucut. Pada waktu sampling, di tengah mulut jaring dipasang alat pencatat volume air yang masuk (flowmeter) dan pengambilan sampel dilakukan secara vertikal atau miring dengan kecepatan 1,0 m/detik dari kedalaman 150 meter (Arinardi et al. 1997).

2.5.  Pengawetan Sampel Plankton
Setelah plankton dikeluarkan dari tabung penampung (bucket) sebaiknya segera diawetkan di dalam botol yang mulutnya cukup luas. Bahan pengawet bukan untuk penelitian khusus biasanya digunakan cairan formalin 4 % sedangkan untuk penelitian khusus, sampel didinginkan antara -10 sampai -25oC agar metabolisme tubuhnya tidak bekerja (Arinardi et al. 1997).
Menurut Wardhana (1997) penggunaan formalin sebagai larutan fiksatif atau pengawet harus melalui pengenceran dengan perbandingan 1:5. Formalin yang akan digunakan harus tersimpan dalam botol gelas atau polythene. Hindari penggunakaan formalin yang tersimpan dalam botol kaleng karena mengandung besi yang akan mengotori sampel plankton. Sebelum digunakan, formalin harus ditambahkan borax (kalsium karbonat atau sodium karbonat) untuk menetralkan asam yang ada di dalamnya. Asam akan melarutkan kapur atau rangka pada kebanyakan zooplankton. Untuk penyimpanan dalam jangka panjang sebaiknya sampel plankton diawetkan dalam larutan formalin 5% dalam air suling. Sampel disimpan dalam botol yang tertutup rapat.
Pemanfaatan formalin untuk mengawetkan fitoplankton perlu ditambahkan 5 tetes terusi (CuSO4) agar fitoplankton tetap berwarna hijau. Sampel nanoplankton paling baik difiksasi dan diawetkan dalam lugol iodin yang ditambah dengan asam asetat. Asam asetat akan mengawetkan flagelum dan silia. Ke dalam 100 ml sampel air yang mengandung nanoplankton tambahkan 2-3 tetes larutan lugol iodin. Nanoplankton akan tenggelam karena meyerap iodin. Tutup botol rapat-rapat dan simpan dalam ruang gelap. Larutan lugol iodin dibuat dengan melarutkan 200 gr kalium iodida p.a dan 10 gr iodin dalam 200 ml akuades. Pada saat iodin larut sempurna, tambahkan 20 ml asam asetat glasial. Simpanlah larutan ini dalam botol gelas berwarna gelap (Wardhana. 1997).
Untuk menghindari kekeliruan sampel satu dengan sampel lainnya, Arinardi et al (1997) menyatakan bahwa dipermukaan luar botol harus ditempelkan label bertuliskan nomor stasiun, tanggal dan waktu pengambilan, posisi stasiun, metode pengambilan, kedalaman pengambilan, nama kapal dan data lain yang dianggap perlu.

2.6.  Identifikasi dan Analisis Fitoplankton
Identifikasi adalah pemberian tanda-tanda pada golongan hewan, tumbuhan ataupun hal lainnya. Bergantung pada tujuannya, umumnya analisis plankton yang mudah dilakukan adalah pengukuran biomassa (berat kering, berat basa, atau volume plankton) dan pencacahan plankter. Masing-masing cara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pengukuran biomassa bertujuan untuk mengetahui banyaknya plankton secara kuantitatif tanpa mengidentifikasi. Ini merupakan cara yang praktis dan sederhana namun kurang teliti karena sering terbawa materi lain di luar plankton.
Pengukuran volume plankton kurang memberikan informasi yang tepat, oleh karena rongga antara plankton sering ikut terukur. Pencacahan plankton dengan cara menghitung jumlah plankter per satuan volume akan merupakan informasi yang lebih teliti, karena dapat memberikan gambaran yang lebih pasti mengenai kepadatan plankton di suatu tempat. Kepadatan plankton dapat digunakan untuk mengetahui penyebaran atau distribusi plankton dalam suatu area. Perlu ditekankan di sini bahwa setiap organisme berukuran besar yang secara nyata bukan merupakan bagian dari plankton harus disingkirkan sebelum pengukuran apapun dilakukan (Wardhana. 1997).
Satu sampel plankton dapat terdiri atas ribuan bahkan jutaan sel atau individu plankton. Oleh karena itu mencacah seluruh sampel akan membutuhkan waktu yang lama. Untuk mempermudah umumnya dilakukan mengencerkan sampel yang diperoleh dan diambil sebagian kecil sampel. Tata cara pencacahan seperti ini disebut metoda subsampel. Cara pencacahan dengan metoda subsampel pada dasarnya dilakukan dengan mencuplik sebagian kecil (sub sampel) sampel plankton dan dicacah di bawah mikroskop. Besar kecilnya volume subsampel akan sangat bergantung pada alat yang tersedia serta kepekatan sampel. Terdapat beberapa cara pencacahan plankton dengan metoda subsampel (Wardhana. 1997).
1.    Cara Pertama
Pengambilan subsampel dilakukan dengan cara menuangkan sampel plankton ke dalam gelas piala bervolume 250 ml. Untuk memudahkan perhitungan, volume
sampel dapat diencerkan menjadi 100 - 200 ml (bergantung pada kepekatan sampel) dengan cara menambah atau mengurangi larutan pengawetnya. Sampel diaduk hingga homogen dan dalam waktu yang bersamaan diambil subsampelnya dengan mempergunakan pipet stempel bervolume 0,1 ml (untuk fitoplankanton) atau 2,5 ml (untuk zooplankton).
Sub sampel dituangkan ke dalam talam pencacah sambil membilas toraks pipet dengan air. Talam pencacah yang sering digunakan adalah Sedgwick-Rafter Counting Cell untuk fitoplankton dan Bogorov atau yang sejenis untuk zooplankton. Plankton dicacah sekaligus diidentifikasi di bawah mikroskop dengan perbesaran sampai 25-200 kali bergantung pada ukuran plankter. Pencacahan dilakukan dengan cara menghitung seluruh plankter yang tampak pada talam pencacah (Arinardi et al. 1997).

2.    Cara Kedua
Pencacahan plankton pada Sedgwick-Rafter Counting Cell juga dapat dilakukan dengan cara lain. Isi penuh Sedgwick-Rafter Counting Cell dengan sampel plankton dan tutup dengan kover gelas secara baik sehingga tidak ada rongga udara di dalamnya. Letakan Sedgwick-Rafter Counting Cell berisi sampel plankton tersebut di bawah mikrokop yang lensa okulernya dilengkapi dengan mikrometer okuler Whipple. Cacah jumlah plankton dari 10 lapangan pandang secara teratur dan berurutan. Apabila terdapat plankter yang terletak pada garis batas okuler mikrometer Whipple di sebelah atas dan di sebelah kiri harus dimasukkan ke dalam perhitungan sedang pada garis batas bawah dan sebelah kanan tidak. Hal ini bukanlah suatu yang mutlak, yang penting dilakukan secara konsisten (Arinardi et al. 1997).


3.    Cara Ketiga
Metoda subsampel juga dapat dilakukan dengan mengambil sebesar 0,04 ml sampel yang telah diaduk homogen dengan pipet ukur 1 ml. Subsampel diletakan atau diteteskan pada objek gelas dan ditutup dengan kover gelas berukuran 18x18
mm. Diasumsikan bahwa kover gelas berukuran 18 x 18 mm dapat persis menutup 0,04 ml subsampel. Setelah diletakkan di bawah mikroskop, diambil secara acak 20 pandangan yang meliputi seluruh permukaan kover gelas. Pada tiap pandangan dihitung semua jenis plankton yang terlihat. Sebelumnya diameter dari pandangan harus ditentukan terlebih dahulu dengan mikrometer okuler.
Cara tersebut sangat tidak praktis dan kemungkinan timbul kesalahan dalam perkiraan kepadatan jumlah plankter sangat besar, walapun pencacahan plankton tidak dilakukan hanya pada 20 lapangan pandang tetapi pada seluruh permukaan kover gelas. Berdasarkan ketiga cara pencacahan plankton tersebut di atas, yang terpenting harus diketahui secara pasti adalah berapa volume air yang berhasil tersaring oleh plankton net (dalam liter atau meter kubik), berapa volume sampel yang tertampung dalam botol plankton net (dalam mililiter), berapa banyak volume subsampel yang diambil (dalam mililiter) dan apabila dilakukan pengenceran terhadap sampel plankton, ini juga harus diperhitungkan (Arinardi et al. 1997).

DAFTAR PUSTAKA

Arinaridi O.H, Sutomo A.B, Yusuf S.A, Trimaningsih, Elly A, Riyono S.H. 1997. Kisaran Kelimpahan Dan Komposisi Plankton Predominan Di Perairan Kawasan Timur Indonesia. Jakarta : LIPI. hlm 19-56

Aryawati Riris. 2007. Kelimpahan Dan Sebaran Fitoplankton Di Perairan Berau Kalimantan Timur : 81 hlm. http://repository.ipb.ac.id. [19 Mei 2012]

Asriyana Yuliana. 2012. Produktivitas Perairan. Jakarta : Penerbit PT Bumi Aksara. hlm 1-8

Ewinasis. 2012. Studi Indeks Keanekaragaman (Diversitas) Plankton : 2-3. http://repository.ipb.ac.id. [19 Mei 2012]


Lindsey Rebecca and Michon Scott. 1999. What are Phytoplankton. http://earthobservatory.nasa.gov.[19 Mei 2013]


Mustafa Hasan. 2000. Teknik Sampling. http:// home.unpar.ac.id. [14 April 2013]

Newell G.E. and R.C. Newell. 1977. Marine Plankton. Edisi ke-5. London : Hutchinson Educational.

Omori M and T. Ikeda. 1984. Methods in Marine Zooplankton Ecology. Jhon Wiley and Sons, Toronto. Canada : 332 hlm

Romimohtarto Kasijan dan Sri Juwana. 2001. Biologi Laut. Jakarta : Penerbit Djambatan. hlm 36-39

Wardhana Wisnu. 1997. Teknik Sampling, Pengawetan dan Analisis Plankton. [Jurnal] Jakarta : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. 12 halaman

Wiadnyana Ngurah N dan Wagey. 2004. Impacts of The Occurence of Red Tide Species to The Fisheries in Indonesia. Jurnal Berkala Perikanan Terubuk. hlm 17-33
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar